Friday, 14 October 2016

"Paksa Aku, dong!"

Pagi ini gue tersadar akan sesuatu, dan tetiba pengen ngungkapin.. biasanya gue cuman nulis status singkat di sosmed; tapi lagi-lagi, pagi ini gue merasa udah greget banget sama sesuatu dan akhirnya berharap dengan tulisan ini, gue bisa bawa sesuatu yang bermanfaat; gak cuma buat diri gue sendiri biar lega udah ngeluarin uneg-uneg, tapi juga buat orang lain yang kiranya bisa dapet makna ketika ngebaca sharing (atau bilang aja curhat) gue ini.. well~ check this out guys :)

~~~~~~~~~~

Pagi ini terjadi sebuah pemaksaan halus oleh seorang ayah kepada anaknya. Hahaha lebay.. jadi tadi gue ditawarin buat dibikinin jus sama si Papi dan dengan santai gue menolak karena memang lagi gak pengen; merasa tiap hari juga udah sarapan jus sebelum berangkat kerja, jadi pas weekend gak harus lah. Begitu kira-kira..

Tak berapa lama kemudian gue denger si Papi ngeblender dan gue pikir doi lagi buat jus buat diminum sendiri seperti biasanya; tapi lalu datanglah segelas penuh mixed fruit juice (ciaelah) ke hadapan gue. Bikin gue heran dan mikir lagi.. perasaan tadi gue bilang gak mau deh, kenapa tetep dibuatin?

Akhirnya dengan sedikit rasa pasrah, gue terima jus yang ternyata malah membantu menyegarkan pagi gue yang tadinya sempat lesu karena mager ini dan sambil ngabisin, gue merasa disadarkan akan sesuatu..

Yang pertama; gue seneng liat orang tua gue bisa menyadari kebutuhan kesehatannya sendiri, tapi terus sedih liat diri gue sendiri yang nyatanya harus dipaksa dulu buat menyadari hal kecil aja soal kesehatan.

Dari sini gue sadar kalau pemaksaan itu gak sepenuhnya buruk; karena kadang kalo gak dipaksa, kita gak akan bergerak buat melakukan sesuatu yang padahal punya maksud baik untuk hidup kita.. selama ini ternyata si Papi selalu memaksa gue untuk menjalani hal-hal kecil yang tampaknya sepele tapi sebetulnya bermanfaat, seperti kasus jus buah tadi..

Yang kedua; dengan jujur gue tiba-tiba teringat soal kisah pemaksaan gue terhadap seseorang (wew). Hahaha.. kali ini gak gue sangkal lagi, tapi gue masih inget dengan jelas pengalaman itu; ketika gue ditolak dan dianggap seseorang memaksa dirinya buat mengungkapkan hal- hal yang selama ini terpendam saja dalam hati (daripada mendem beban mending mendem harta kan yak? hahaha)

Saat itu yang ada di pikiran gue, cuma pengen denger keluh kesahnya, bantu dia melegakan diri dengan melepaskan bebannya; tapi mungkin saat itu gue belum cukup bijaksana dan pantas buat jadi temen sharingnya.. dan gue sedih gitu, merasa gagal jadi temen yang baik; karena dari sekian jumlah teman yang udah berani ambil resiko mempercayakan keluh kesahnya sama gue dan sebaliknya, teman yang satu ini -yang gue anggap lebih dan paling dekat- ternyata gak menganggap gue cukup layak menemaninya menghadapi tantangan hidupnya (eaaaa, galau ni ye) :p

Oke yang sudah lalu biar berlalu, tapi pelajaran yang bermakna dari pengalaman lalu itu tampaknya sayang sekali untuk disangkal apalagi dilupakan cuma karena merasa kecewa dan benci sama hal tersebut~ paling tidak inilah yang akhirnya bisa gue refleksikan (syukurlah) :D

Kali ini gue jadi bertanya-tanya; kenapa kita harus gengsi menahan diri ketika dipaksa, kalo memang merasa paksaan itu akan merubah diri ke arah yang lebih baik? seperti gue yang tadi akhirnya tetep ngabisin segelas jus itu dan akhirnya bersyukur karena malah jadi merasa tersegarkan buat melanjutkan hari ini.

Kenapa selalu bilang 'jangan maksa' dan merasa 'ya beginilah hidup gue'? Bukankah itu tanda kesombongan? Gengsi yang membuat kita selalu lebih memilih bertahan di zona nyaman; terjerumus dalam keegoisan yang bikin kita enggan untuk mulai merubah diri, sebagai awal dari kebaikan yang mungkin akan membawa kebaikan-kebaikan selanjutnya ke depan?

Pertanyaan-pertanyaan ini sekian lama tersimpan dalam kotak pikiran dan gue pun gak berharap akan terjawab segera.. tapi gue yakin kalau suatu hari semua akan jadi lebih baik, seperti kata pepatah 'hard work never lies' ^.^

Gue cuma berharap akan semakin banyak orang, terutama orang-orang muda yang tertantang untuk lebih berani keluar dari zona nyaman dan dengan rendah hati bilang 'paksa aku, dong!', dibanding 'jangan suruh gue berubah! itu bukan diri gue!'.


Karena meski jadi diri sendiri memang baik, tapi pepatah lain pun bilang, tanpa perubahan tak akan ada yang bertumbuh dan tanpa pertumbuhan tak akan ada yang mampu bertahan. Jadi kenapa enggan untuk berubah?


Salam semangat! untuk kalian-kalian yang berani keluar dari zona nyaman ;D (yes)

Sunday, 15 May 2016

L.E.L.A.H

Lelah itu, saat dimana kita tak mampu lagi menanggung apa yang kita jalani..

Meski semua orang bilang "paksakan", agar hidupmu lebih baik, tapi nyatanya, ketika kita memaksakan diri, yang ada hanya lelah, dan akhirnya ingin berhenti..

Beberapa dari kita yakin, bahwa berjuang tanpa tujuan yang pasti itu adalah langkah yang tepat..

Tapi seberapa dalamkah kita mengerti, bahwa menjalani sesuatu tanpa tujuan itu layaknya berdoa tanpa memahami siapa yang kepada-Nya kita memanjatkan permohonan?

Padahal setiap kesempatan yang Ia berikan, pada dasarnya disampaikan agar kita mengerti, bahwa kita boleh bermimpi, boleh berharap, boleh memohon, bahkan boleh mengadu dan mengeluh kesah pada-Nya..

Seberapa kuatkah kita sebagai pribadi sampai tak ingin merepotkan Ia yang begitu mencintai kita dan selalu ingin memberikan yang terbaik bagi kita?

Seberapa sanggupkah kita mengatakan "aku kuat", "aku bisa" menanggung segalanya? Padahal justru Ia yang menguatkan kita, karena Ia begitu mencintai kita dan tak ingin melihat kita bersedih dan berjuang tanpa hasil terbaik yang sudah Ia rencanakan untuk kita.

Tanpa kita sadari, salutnya orang lain akan kesanggupan kita adalah bukti bahwa tak semua orang mampu, dan akan tiba saatnya kita merasa "lelah". Jangan ingkari itu, dan beristirahatlah :) (yes)

Sunday, 8 May 2016

Perjuangan yang Nihil Hasilnya - 2nd part

-continue from 1st part-

Aku tak peduli dengan kegagalanku, semua itu tak sebanding dengan kekecewaan yang akhirnya saling kita lemparkan satu sama lain karena terlalu saling mengasihi dan akhirnya tak mampu saling melengkapi karena mencoba saling menghargai perasaan satu sama lain.

Ya, kamu memang teman terbaik, yang selalu mencoba menjagaku sebaik-baiknya hatiku menerima. Namun kebaikan yang melampaui batas hati ternyata mampu menjatuhkan kita pada dalamnya rasa kecewa, karena kita akan selalu merasa tak mampu memberikan apa yang terbaik untuk orang-orang yang kita kasihi. Apa kamu setuju dengan hal ini sekarang?

Kurasa, sebaik-baiknya pribadi pun tak akan mampu memenuhi harapan manusia, karena harapan terdalam seorang manusia hanyalah Tuhan semata; ya, hanya Tuhan saja yang mampu memenuhi lubuk hati kita dengan kedamaian dan janji untuk menjawab setiap harapan dengan segala yang terbaik dalam hidup yang selalu patut disyukuri. Sungguh kusadari itu sekarang, kawan terkasih..

Baiklah kini semua orang mengajakku untuk menerima pengalaman dan kembali bangkit meneruskan hidupku dengan sejumlah pengalaman yang akan memperbaiki hidup.. tapi ijinkanlah aku sejenak merasakan juga, perjuangan yang nihil hasilnya; agar aku paham rasa yang sempat kau alami, hingga kau begitu yakin untuk segera bangkit dari apa yang semua orang sebut kegagalan itu.

Kamu memang teman terbaik, yang dengan begitu hebatnya mengajarkanku banyak hal tentang bagaimana kita harus menguatkan diri menghadapi tantangan hidup di dunia yang katanya semakin kacau ini.. meski awalnya mengacaukan diriku juga, tapi terima kasih, telah mengajarkanku banyak hal, melalui perjuangan yang nihil hasilnya :)

Selamat berjuang kembali untuk kita masing-masing, kawan! Doa terbaikku selalu untukmu, kehidupanmu, juga masa depan terbaikmu :) (yes)

Perjuangan yang Nihil Hasilnya - 1st part

Aku tak menyalahkan rindu, tak pula harus menyalahkan rasa. Ketika pikiran mulai dikacaukan dan membawa gejolak jiwa, tak seharusnya pula kusalahkan semua yang terjadi..

Pasti ada hal yang mengarahkan semua ini; aku tahu, tapi aku sulit menerimanya. Kamu tahu kecewa? Ya. Kecil hati, tidak senang, tidak puas, karena ada hal yang tidak terjadi sesuai harapan. Kurang lebih itu maksud Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) yang sempat kubaca.

Aku tak ingin menyalahkanmu, karena aku pun tak luput dari kesalahan. Kegagalanku dalam memperlakukanmu, yang juga membuatmu kecewa karena apa yang kulakukan tak pernah kau bayangkan sebelumnya akan menyakiti hatimu sedalam-dalamnya, menembus ketulusan hatimu yang mencoba menerima apa adanya diriku sejak kita mulai saling mendekat dan mengakrabkan diri.

Awalnya kupikir ini tak akan pernah terjadi. Aku tak peduli harus membalas rasa kecewamu dengan kegagalanku, tak pula ingin menjadikan tangisku alat untuk memohon belas kasihanmu, aku hanya ingin membalas penyesalanku dengan melepasmu se-rela yang aku mampu..

Sekian waktu berlalu, namun gelisah tetap disana, menanti jawaban untuk kembali tenang dalam lubuk jiwa terdalam. Aku mencoba tetap sadar dengan apa yang ku lakukan, menyadari bahwa kamu sungguh telah ingin pergi dariku; namun jiwaku berontak, bukan ingin menahanmu pergi, hanya ingin memastikan bahwa kamu sungguh baik-baik saja setelah sempat kujatuhkan dalam kekecewaan; hanya ingin membantumu mengangkat kembali jiwamu, yang mungkin sempat kutenggelamkan dalam kegagalan.

Saat itu kamu berkata, perjuanganmu nihil hasilnya. Singkat kata yang menyadarkanku bahwa ternyata hal itulah yang selama ini kau pendam sendiri; yang mengingatkanku bahwa aku telah gagal menjagamu, tak mampu pula menjadi teman baikmu di sepanjang langkah perjuangan kita bersama..

-continue to 2nd part-

Monday, 25 April 2016

Jawaban Terbuka untuk Tantangan Surat Terbuka :D

Kepada Ytk. Christina Ayu S.

Hal yang tak mungkin diabaikan, apa yang tak pernah terbayangkan; menemukan sahabat yang sungguh peduli seluk beluk kisah hidupmu, yang sungguh menarikmu dari lubang kelam perjalanan hidupmu.. Sahabat yang kau jumpai bukan dari awal tumbuh kembang masa kecilmu, namun membawamu sungguh bertumbuh dari benih kesungguhan dirimu, pada kesungguhan pribadimu yang mungkin tak semua orang mampu membukanya.

Aku bukan gadis manis yang sempurna, belum pula jadi wanita dewasa yang mampu menjaga kesadaran diri dan menahan kelemahan diri yang selalu memunculkan kekecewaan mendalam dari setiap kegagalan hidup.. namun bersama orang-orang yang tepat, kelemahan terdalam pun akan mampu kau jadikan kelebihan yang sesungguhnya menunggu terkuak dari relung terdalam hatimu.

Menjawab tantangan kali ini, mengingatkanku pada kata yang pernah dan seringkali kusampaikan padamu mengenai "stimulan". Ya, penggerak dan pendorong motivasi yang seringkali ku ulangi dalam setiap keluhan dan resahan jiwaku; dan sungguh inilah yang saat ini kudapatkan darimu, sahabat. Bila ada kata lain yang lebih mulia dari kata terima kasih, tak akan kusimpan lama untuk kuberikan sebagai tanda kasih bagi kebaikan hatimu yang sungguh tulus kurasakan.

Melalui jawaban terbuka ini dan atas restu Tuhan Sang Maha Cinta, semoga stimulan ini akan segera membangkitkan jiwaku dari keterpurukan yang memang harus kulalui terlebih dahulu, sebelum siap menyongsong kebaikan hidup yang menanti di depan :)

Salam hangat untuk sahabat penyemangat ^_^ (yes)

Sunday, 4 May 2014

SAUSSURE: LANGUAGE AS A SOCIAL FACT

Towards the end of the XIX century – it seems everything looks good for that time, and some are still convince remain for this present - similarities between language and biology has been much rejected. This is causing the difficulty to understand the language as an academic discipline: If language is not the live species, in what sense that language is an "item" which is able to be investigated? Common people just pleased that French language is something which is able to be learned, that has a certain device and in some cases is same or similar to English, however in other case is different; but when the French language is an item and that item is something strange. It is clear that the language is not a concrete object such as table or a spread out land called France. You cannot see or hear the French language. The thing that you can hear is Gaston the waiter said "pas si bete ...": You can see a row of a printed letters on a sheet of "Le Monde" newspaper; but how can we interpret a form that called the France language that is behind thousands concrete phenomena which can be observed as in two earlier examples? What kind of form that the language is? Biological paradigm shows the relationship between speak and the French language as the relationship between a specific carrot and the species of carrot: And as far as the rejection to this opinion of the biological paradigm, these opinions has considered satisfactory - though people can only see or eat the carrots, people see that is important to talk about the species of carrots and discuss, let's say, these genetic relationship with the species of potatoes. But the first time, biology has been thrown to the side of road; second, people have said that the paradigm is not able to give a complete answer to the ongoing discussion. In biology, because of the species is an abstraction, at least those individual species are a concrete objects, so that some kinds of item can easily felt than carrots. But the linguistic analogy towards the biological individual is the idiolect; and these almost of all, if it is not the whole, same as the abstraction of the widely concept about language. We cannot hear the idiolect of Gaston as a form; we can only hear the examples of the idiolect - comments he has said when he saw a tip that we left off, and these example of idiolect has no parallels in biology. Hence, although it is not considered as a specific problem by the linguists of the nineteenth century, the question "How does the understanding of a form that called language or dialect which underlying the reality that can be felt rather than the specific statements?" is still opened at that time. Person who answers that question who can satisfy the experts at the same time with him as well as the experts at this time is the scholar Swiss: Ferdinand de Saussure.
            His full name, Mongin Ferdinand de Saussure, was born at Geneva in 1857, son of the Huguenot families who moved from Lorraine during the religious war in France at the late sixteenth century. Although people now consider Saussure as the first person who gives the explanation that called synchronic linguistics - the study about language as a system in a specific time, which is distinguished by historical linguistics (that Saussure named it diachronic linguistics to distinguish) which is for the experts at the time is the only available approach to study that during the time - in his lifetime was not intended to make it famous. Saussure got educated as an ancient language expert, and succeed when he was still a young man, he published a book entitled Memoire sur Lesysteme Primitif des Voyelles Dans les Langues Indo-Europeennes (1878). The book was published few weeks after his 21st birthday: when he was still a student in Germany. That book is one of the basic reconstructions of Proto Indo-European language. Susssure gives an Ecole Pratique des Hautes Etudes lecture in Paris from 1881 to 1891, before he go back teaching in Geneva, all his publishing, and almost all the lectures that he gave, his entire works are more related to the historical linguistics than synchronic linguistics, within a deep analysis about the various Indo-European language and not by the common theories that makes him famous nowadays.
            In fact, though Saussure produce his work on the common linguistics theory at about 1890 (Koerner, 1973 : 29), he seems not unwilling to give it to someone else, and the story of how can his ideas go to the publisher ia a strange story. At the end of 1906, he was asked to take over the resposibility in giving a lecture about general linguistics and the history, also the comparison of Ido-European languages from a scholar who has quit from his 30 years official duty; Saussure taught the materials on the rest of his student period and on the lectures in 1908-1909 also in 1910-1911. In the first years, Saussure limits his study only for historical matters; but when he gave it at the second years, he also gave a brief introduction about synchronic linguistics. In a short time afterward, he died, without the opportunity to publish any theorical materials. Some people have been ask his to publish it, but he always answered that to arrange his lecture is very time-consuming, yet two of his colleagues, Charles Bally and Albert Sechehaye decided to arrange those materials from students lecture notes, together by Saussure's notes that he left. The book that they produced entitled Cours de Linguistique Generale (Saussure 1916) is one of the media which can used by the scholars over the world to understand the thoughts of Saussure, and because of this Saussure is known as the father of linguistics experts of the twentieth century.

SAUSSURE : BAHASA SEBAGAI FAKTA SOSIAL

Menjelang akhir abad XIX - rupanya semuanya tampak baik untuk waktu itu, dan sebagian masih tetap meyakinkan untuk masa sekarang - persamaan bahasa dengan biologi telah banyak ditolak. Hal ini menimbulkan kesulitan pemahaman bahasa sebagai suatu disiplin akademis: Jika bahasa bukan species hidup, dalam arti apakah bahasa merupakan "barang" yang dapat diselidiki? Orang awam senang saja bahwa bahasa Perancis merupakan sesuatu yang dapat dipelajari, yang memiliki perangkat tertentu dan dalam beberapa hal sama atau serupa dengan bahasa Inggris tapi dalam hal lain berbeda; tapi bila bahasa Perancis suatu barang dan barang itu merupakan sesuatu yang aneh. Sudah jelas bahwa bahasa itu bukan benda konkrit seperti meja ataupun seperti hamparan daratan yang disebut Perancis. Anda tidak dapat melihat ataupun mendengar bahasa Perancis itu. Yang dapat Anda dengar ialah Gaston si pelayan berkata "pas si bete ...": Anda dapat melihat sebaris cetakan huruf dalam selembar surat kabar "Le Monde; tapi bagaimanakah kita dapat mengartikan suatu wujud yang disebut bahasa Perancis yang berada di belakang beribu-ribu fenomena konkrit yang dapat diamati seperti dalam dua contoh tadi? Macam wujud apakah bahasa itu? Paradigma biologi menunjukkan hubungan antara bicara dan bahasa Perancis seperti hubungan antara Wortel (carrot) tertentu dan species wortel: Dan sampai dengan ditolaknya pendapat paradigma biologi ini, pendapat seperti ini sudah dianggap memuaskan – walaupun orang hanya dapat melihat atau makan wortel, orang menilainya cukup penting untuk membicarakan species wortel dan membahas, katakanlah, hubungan genetikanya dengan species ubi-ubian. Tapi pertama kali biologi sudah terlempar ke sisi jalan; yang kedua, orang sudah berpendapat bahwa paradigma tersebut tidak dapat memberikan jawaban yang lengkap terhadap pembahasan yang sedang berlangsung. Dalam biologi, karena species merupakan abstraksi, paling tidak individu species tersebut merupakan barang yang konkrit, maka beberapa macam barang lebih dapat mudah dirasa daripada wortel. Tapi analogi linguistik terhadap individu biologi adalah idiolek; dan ini hampir semua, bila tidak keseluruhannya, sama seperti abstraksi dari konsep yang luas tentang bahasa. Kita tidak dapat mendengar idiolek Gaston sebagai suatu wujud; kita hanya dapat mendengar contoh-contoh idiolek tersebut – komentar yang ia ucapkan kalau ia melihat uang tip yang kita tinggalkan, dan contoh idiolek itu tidak mempunyai kesejajaran dalam biologi. Jadi walaupun tidak dianggap sebagai masalah tertentu oleh ahli bahasa abad XIX, pertanyaan “Bagaimanakah pengertian wujud yang disebut bahasa atau dialek yang mendasari realita yang dapat dirasakan daripada ujaran-ujaran tertentu? Tetap terbuka pada masa itu. Orang yang menjawabnya yang dapat memuaskan para ahli yang semasa dengannya serta para ahli dewasa ini ialah sarjana Swiss: Ferdinand de Saussure.
            Mongin Ferdinand de Saussure, nama lengkapnya, dilahirkan di Jenewa pada tahun 1857, anak keluarga kaum Huguenot yang pindah dari Lorraine selama perang agama di Perancis akhir abad XVI. Walaupun orang sekarang menganggap Saussure sebagai orang pertama yang memberikan definisi tentang pengertian yang disebut linguistik sinkronis – yaitu kajian tentang bahsa sebagai system yang terdapat pada waktu tertentu, yang dibedakan dengan linguistik historis (yang untuk membedakannya Saussure menamakan linguistik diakronis) yang bagi para ahli semasanya merupakan satu-satunya pendekatan yang ada untuk mempelajari bahwa waktu itu – pada masa hidupnya tidak dimaksudkan untuk menjadikannya terkenal. Saussure mendapat didikan sebagai ahli bahasa kuno, dan berhasil ketika masih berusia muda menerbitkan buku yang berjudul Memoire sur lesysteme primitif des voyelles dans les langues indo-europeennes (1878). Buku itu diterbitkan beberapa minggu setelah ulang tahunnya yang ke XXI: Ketika ia masih menjadi mahasiswa di Jerman. Buku tersebut merupakan salah satu dasar rekonstruksi bahasa Proto Indo-Eropa. Saussure memberikan kuliah Ecole Pratique des Hautes Etudes di Paris dari tahun 1881 sampai tahun 1891, sebelum ia kembali mengajar di Jenewa, semua penerbitannya, dan hampir semua kuliah yang diberikannya, seluruh karyanya lebih banyak berhubungan dengan linguistik historis daripada linguistik sinkronis, dengan analisis yang mendalam tentang berbagai bahasa Indo-Eropa dan bukan dengan teori umum yang menjadikannya ia sekarang terkenal.

            Padahal, walaupun Saussure menghasilkan karyanya tentang teori linguistik secara umum pada sekitar 1890 (Koerner, 1973 : 29), tampaknya ia segan memberikannya pada orang lain, dan kisah bagaimana gagasan-gagasannya dapat masuk ke penerbitan merupakan cerita yang aneh. Pada akhir tahun 1906 ia diminta untuk mengambil alih tanggung jawab dalam memberikan kuliah tentang linguistik umum dan sejarah serta perbandingan bahasa-bahasa Indo-Eropa dari seorang sarjana yang telah berhenti dari dinasnya selama 30 tahun; Saussure mengajarkan bahan itu pada sisa masa kuliahnya dan pada kuliah-kuliah tahun 1908-1909 dan tahun 1910-1911. Pada tahun-tahun yang pertama Saussure membatasi kuliahnya hanya tentang hal-hal sejarah; tetapi ketika ia memberikan pada tahun-tahun yang kedua ia memasukkan juga pengantar singkat tentang linguistik sinkronis, dan pada kuliah yang ketiga, seluruh semester digunakan untuk memberikan teori linguistik sinkronis. Tak lama sesudah itu ia meninggal, tanpa sempat menerbitkan bahan teori yang manapun. Beberapa orang telah pernah memintanya untuk menerbitkan, tapi ia selalu menjawab bahwa untuk menyusun bahan-bahan kuliahnya sangat menyita waktu, tetapi dua orang rekannya, Charles Bally dan Albert Sechehaye memutuskan untuk menyusun bahan-bahan tadi dari catatan kuliah para mahasiswa bersama-sama dengan catatan kuliah yang ditinggalkan Saussure. Buku yang mereka hasilkan yaitu berjudul Cours de linguistique gererale (Saussure 1916) merupakan suatu media yang dapat digunakan oleh sarjana di dunia untuk memahami pemikiran Saussure, dank arena dokumen inilah Saussure dikenal sebagai bapak ahli linguistik abad XX.